Minggu, 29 Juni 2008

akhirnya ku mengerti...^^

Harapan dan kenyataan

Ketika kedua sisi hatiku menolak dan menerima

Di batas atas,

Dan di batas bawah keinginan untuk berubah

Ketika aku mencoba memahami

Semuanya buyar seperti debu-debu

Segalanya berpendar seperti kembang api

Bersinar sebentar saja

Akhirnya aku tetap dalam tanda tanya besar

Kelelahan dan nestapa

Suatu ketika, ketika kesadaran menyeruak

Dalam diamku yang panjang dan hening

Aku mulai berhenti untuk mencoba memahami segala sesuatu

Aku juga berhenti mencari apa-apa di luar diriku…

Pada akhirnya hanya ke dalam diriku…

Ternyata satu demi satu pemahaman itu hadir

Ungkapan…ungkapkan sejuta makna pencarian

Saat hadir telaah diri…

Aku beranjak dewasa

Setelah aku berhenti

Setelah aku berdiam diri

Cahaya mulai menyinari hatiku...ah lega nya....keep fighting...Semangat pie...

ya ya ya...



Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, pikiran & perasaan lelaki akan resah. masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan Siti Hawa.

Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, isteri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh mereka. Didiklah mereka dengan panduan dariNya:
JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA, NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR,
JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN NANTI MEREKA SEMAKIN
MENDERITA,

AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU, HATI
SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN, PERASAAN SELEMBUT
SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK

Suburkanlah karena dari situ nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator.

Bisikan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki wajah : negarawan, karyawan, jutawan, dan wan-wan lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.

Wanita yang lupa hakikatkejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.

Tanpa ilmu, iman & akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.

LEBIH BANYAK LELAKI YANG DIRUSAK OLEH WANITA DARIPADA
WANITA YANG DIRUSAK OLEH LELAKI. SEBODOH-BODOH WANITA
PUN BISA MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI....maka saling melengkapilah..^^

Sabtu, 28 Juni 2008

JaDilah Teman Ku Ya....

Jadilah jembatan bagi jiwaku

Agar aku dapat melewati sungai harapan

Jadilah pelita asa

Agar dapat aku berjalan di kegelapan

Jadilah teman seperti yang kau inginkan

Agar aku tetap menjadi diriku sendiri

Jangan biarkan aku berhenti berharap

Supaya tiada apapun yang bisa membuatku menyerah

Jadilah temanku ……

Mulai lagi

Nah…!

Apa ku bilang ….

Berdamailah dengan hatimu!

Karena, apa yang sudah kau pilih adalah yang terbaik untuk dirimu.

Jadi …. Apalagi?

Ya …

Kamu harus mulai menata lagi

Mulai lagi menata mimpi-mimpimu

Mulai lagi menata hari-harimu

Mulai lagi menata hatimu

Mulai belajar lagi

Mulai bekerja lagi

Pokoknya : MULAI LAGI

Butuh waktu …!

Tapi lihat ke depan

Kemana garis akan berakhir

Itulah tujuanmu

Kalau kamu bilang itu tidak mudah ….

Ya …. Namanya juga mulai lagi….

Dari Awal lagi....bangun pie...jangan terpaku di tempat....

Hadirmu Disini...

Hadirmu disini….

Membuat ku menyadari

Sesuatu yang tak pernah kutahu

Sebuah tempat yang tak terbayangkan sebelumnya

Surrealis…

Akhirnya ku mengerti

Sejak pertama kau tatap mata ini

Takkan pernah terlupa,

Terjadi begitu saja

Mungkin ini yang seharusnya kita melaluinya, meski tak bisa bersama…..

Kucoba selalu, untuk kembali kedunia nyata seperti semestinya.

Meskipun terlalu berat untuk kuhadapi sendiri…..

Aku di dalam nyata

Aku memang ada….

Jangan sempat kau sesali….

Seandainya bisa…..,tentu akan kuhindari…..

Ternyata tidak mudah karena kau membuatku berbeda….

Ku melihat dunia penuh warna.

Salahkah aku mengartikan semua?

Aku memang naïf….

Memandang semua lewat rasa

Tapi inilah aku…..

Seseorang yang mungkin ingin kau hindari

Padahal kupikir bukan aku yang memulai

Kubilang, kalau bisa ku…… tak ingin jadi begini

Tersiksa untuk kembali seperti dulu

Aku tak mampu….

Biarkan aku, berbalik perlahan-lahan

Belajar menegakkan kepalaku lagi

Menjadi diriku lagi….

Harapku kau tahu

Aku tidak bersalah…..

Atas hadirmu disini

Ku mau kau terus belajar untuk mengerti…..

Segalanya memang mungkin terjadi?

waktu jadikan diriku yang menghargai waktu

minggu 29 juni 2008

melakukan apalagi....

Apa yang selayaknya aku lakukan?
Aku mengenalmu..
Mengenangmu..
Mengharapmu...
Melihatmu..
Menyapamu...
Apa yang harus aku lakukan..
Bila kurindu
Kucari jejakmu di tempat-tempat yang kulalui..
Aku merasa hampir-hampir tersesat
Tak penah kuragukan kebaikan hatimu
Ketegasanmu
Kepandaianmu
dan apa adanya semua yang coba kau perlihatkan pada diriku
Tetap saja mulai kumenyalahkan diriku
Karena ku tak pernah pasti..
Seperti rontaan napasku yang memburu
Juga irama nadiku yang tak berirama
Aku takluk pada rasa...kebingungan dan harap yang sama besarnya
Mungkinkah?
Apa lagi yang harus kuperbuat?
Aku ingin meyakinkan diriku..
Mempunyai waktu untuk menikmati senyummu sendirian
Dan bersikap apa adanya
Melihat, menunggu
Merasakan dengan penuh syukur atas apa yang telah kumiliki,
Keyakinan atas kehadiranmu
Apa yang harus kulakukan...

Mungkin hanya waktu yang ku butuh kan...

minggu, 29 juni 2008

Cuma Harus Diam....

Diam, kataku...
Jadi, aku diam
Mataku memandang kesana-kemari
Jangan melihat kemana-mana
Jadi, aku pejamkan mata
Kepalaku bergeleng-geleng
Jangan mendengarkan apa-apa
Jadi akupun menutup telinga
Hidungku berkerut mengendus-endus
Jangan hirup aroma apapun
Jadi akupun menghentikan penciumanku
Aku masih berjalan-jalan dengan pikiranku
Oh...diamlah!
Ada suara halus lembut berbicara membelai jiwaku...
Siapa gerangan?
Naluriku.....kata hatiku