Tampilkan postingan dengan label mutiara hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mutiara hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2008

SEBUAH KISAH PENCIPTAAN PRIA DAN WANITA


Ada sebuah kisah tentang penciptaan pria & wanita. Pada saat Sang Pencipta
telah selesai menciptakan pria. Ia baru menyadari bahwa Ia juga harus
menciptakan wanita.

Padahal semua bahan untuk menciptakan manusia sudah habis dipakai untuk
menciptakan pria. Kemudian Sang Pencipta merenung sejenak, dan kemudian Ia
mengambil lingkaran bulan purnama, kelenturan ranting pohon anggur, goyang
rumput yang tertiup angin, mekarnya bunga, kelangsingan dari buluh galah,
sinar dari matahari, tetes embun dan tiupan angin.

Ia juga mengambil rasa takut dari kelinci dan rasa sombong dari merak,
kelembutan dari dada burung dan kekerasan dari intan, rasa manis dari madu
dan kekejaman dari harimau, panas dari api dan dingin dari salju, keaktifan
bicara dari burung kutilang dan nyanyian dari burung bul-bul, kepalsuan dari
burung bangau dan kesetiaan dari induk singa.

Dengan mencampurkannya bahan semua itu, maka Sang Pencipta membentuk wanita
dan memberikannya kepada pria. Pria itu merasa senang sekali karena hidupnya
tidak merana dan kesepian seorang diri.

Setelah satu minggu, pria itu datang kepada Tuhan, katanya: ‘Tuhan,
ciptaan-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku membuat hidupku tidak bahagia.
Ia bicara tiada henti sehingga aku tidak dapat beristirahat. Ia minta selalu
untuk diperhatikan. Ia mudah menangis karena hal-hal sepele. Aku datang
untuk mengembalikan wanita itu kepada-Mu, karena aku tidak bisa hidup
dengannya’.

‘Baiklah’, kata Sang Pencipta. Dan Ia mengambilnya kembali. Beberapa minggu
kemudian, pria itu datang lagi kepada Tuhan, dan berkata, ‘Tuhan, sejak aku
memberikan kembali wanita ciptaan-Mu, kini aku merana kesepian.

Tiada lagi yang memperhatikanku, tiada lagi yang menyayangiku. Aku selalu
memikirkan dia, ke mana pun aku pergi, aku selalu ingat dia. Makan tidak
enak, tidur tidak nyenyak. Aku rindu kepadanya. Di kala aku sendirian,
kubayangkan wajahnya yang cantik, kubayangkan bagaimana ia menari dan
menyanyi. Bagaimana ia melirik aku. Bagaimana ia bercakap-cakap dan manja
kepadaku. Ia sangat cantik untuk dipandang, dan sedemikian lembut untuk
disentuh. Aku suka akan senyumannya.

Tuhan, kembalikan lagi wanita itu kepadaku!’.

Sang Pencipta berkata, ‘Baiklah’. Ia memberikan wanita itu kembali
kepadanya. Tetapi, tiga hari kemudian pria itu datang lagi kepada Tuhan dan
berkata, ‘Tuhan, aku tidak mengerti. Mengapa dia memberikan lebih banyak
lagi kesusahan dari pada kegembiraan. Dia semakin menyebalkan. Aku tidak
tahan lagi dengan sikap dan tingkah lakunya. Aku berdoa kepada-Mu.

Ambillah kembali wanita itu. Aku tidak dapat lagi hidup dengannya’.

Sang Pencipta balik bertanya, ‘Kamu tidak dapat hidup lagi dengannya?’.

Pria itu tertunduk malu, ia merasa putus asa. Dalam hatinya ia berkata, ‘Apa
yang harus aku perbuat? Aku tidak dapat hidup dengannya, tetapi aku juga
tidak dapat hidup tanpa dia. Tuhan, ajarilah aku untuk mengerti apa arti
hidup ini?’.

‘Belajarlah untuk memahami perbedaan dan belajarlah untuk berani menerima
perbedaan dalam hidupmu! Pahamilah dan usahakanlah apa yang menjadi
kebutuhan mendasar dari pasangan hidupmu!’, jawab Tuhan.

Dan inilah enam kebutuhan mendasar pria dan wanita:
1. Wanita membutuhkan perhatian, dan pria membutuhkan kepercayaan.
2. Wanita membutuhkan pengertian, dan pria membutuhkan penerimaan.
3. Wanita membutuhkan rasa hormat, dan pria membutuhkan penghargaan.
4. Wanita membutuhkan kesetiaan, dan pria membutuhkan kekaguman.
5. Wanita membutuhkan penegasan, dan pria membutuhkan persetujuan.
6. Wanita membutuhkan jaminan, dan pria membutuhkan dorongan

Sabtu, 23 Agustus 2008

motivasi..

1. Sekurang-kurangnya ada 5 orang dalam dunia yang
menyayangi Anda dan sanggup mati karena Anda.

2. Sekurang-kurangnya ada 15 orang dalam dunia ini
yang menyayangi Anda dalam beberapa cara

3. Sebab utama seseorang membenci Anda adalah karena
dia ingin menjadi seperti Anda.

4. Senyuman dari Anda boleh membawa kebahagiaan kepada
seseorang, walaupun dia tidak menyukai Anda.

5. Setiap malam ada seseorang mengingat Anda sebelum
dia tidur.

6. Anda amat bermakna dalam hidup seseorang.

7. Kalau bukan karena Anda,seseorang itu tidak akan
hidup bahagia.

8. Anda seorang yang istimewa dan unik.

9. Seseorang yang Anda tidak ketahui menyayangi Anda.

10. Apabila Anda membuat kesalahan yang sangat besar,
ada hikmah dibaliknya.

11. Sekiranya Anda merasa dipinggirkan, pikirkan
dahulu; mungkin Anda yang meminggirkan mereka.

12. Apabila Anda berpikir tidak mempunyai peluang
untuk mendapatkan sesuatu yang Anda ingini, mungkin Anda tidak akan
memperolehnya, tetapi jika Anda percaya pada diri sendiri lambat laun Anda
akan memperolehnya.

13. Kenanglah segala pujian yang Anda terima. Lupakan
segala caci maki.

14. Jangan takut untuk meluapkan perasaan Anda; Anda
akan merasa senang bila seseorang mengetahuinya.

15. Sekiranya Anda punya sahabat baik, ambillah waktu
untuk memberitahunya bahwa dia adalah yang terbaik. Hanya semenit
diperlukan untuk mendapat sahabat baik, sejam untuk menghargainya, sehari
untuk teman tetap paling setia. Walaupun punya harta yang banyak, teman
tetap paling berharga.

Senin, 18 Agustus 2008

pesan rasulullah saw..

Pesan Rasulullah Saw. kepada Fathimah az-Zahra

Imam Nawawi al-Bantani pernah menuliskan keagungan Fathimah az-Zahra ketika berbicara mengenai hak dan kewajiban suami istri bersama Rasulullah.

Nabi Saw., bersabda kepada puterinya:

Hai Fathimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya.

Hai Fathimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingannya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka Allah memisahkan antara dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta.

Hai Fathimah, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya, dan menyisirkan rambut mereka dan mencucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Hai Fathimah, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendo’akan dirimu.

Bukankah engkau mengerti, hai Fathimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kebencian Allah.

Hai Fathimah, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat menmperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapuskan. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila ia telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya.

Hai Fathimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (meninggal) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhaji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga kiamat.

Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas dan niat yang benar, maka Allah mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhaji dan berumrah.

Hai Fathimah, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat.

Hai Fathimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada seruan yang ditujukan kepadanya dari langit, ”Wahai wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang.”

Hai Fathimah, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya demikian pula jenggotnya, memangkas kumis dan memotong kuku-kukunya, maka Allah kelak memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang bersegel) dan dari sungai yang ada di surga. Bahkan Allah kelak akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian).

Sabtu, 09 Agustus 2008

Al`Quran : Surat surat Cinta..


Pernahkan sahabat menerima surat Cinta dari sang kekasih? atau Surat dari Ibunda tercinta yang kita rindu karena berpisah begitu lama. Bagaimana rasanya ketika kata-demi-kata kita baca.

Ketika surat itu berisi kata-kata rindu, tentu hati bisa berdebar, pikiran melayang, hati berbunga-bunga. Bahkan tidurpun tersenyum :-)

Namun ketika surat-surat itu berisi teguran, rasa kecewa, apalagi marah. Hati benar-benar gelisah, khawatir. Akankah cinta menjadi malapetaka. Akankah sang kekasih akan putuskan cinta. Tidurpun gelisah tidak nyaman.

Begitulah yang Rosulullah rasakan. Al Quran telah membuat beliau gemetar, gelisah, basah dengan keringat di saat ayat-ayat-Nya turun. Namun disaat lain beliau tersenyum, bangga dikala mendengar kabar gembira buat diri dan ummatnya. Al Quran begitu memenuhi hati dan pikiran beliau. Sehingga secara luar biasa, merubah cara berpikir tentang Tuhan (tauhid), cara hidup, cara berperilaku, akhlak mulia. Hanya cukup 23 tahun berinteraksi dengan Al Quran, tidak hanya diri yang berubah, bahkan jazirah Arab yang tidak diperhitungkan saat itu dan dunia sampai sekarangpun bisa merasakan dampak perubahannya.

Sudahkah kita merasakan apa yang Rosulullah Rasakan? Sudahkan kita melihat Al Quran sebagai surat cinta, bukan hanya kepada Rosulullah, tapi kepada diri kita? Atau kita ketika membaca Al Quran, masih seperti membaca surat cinta kepada Rosulullah... bukan surat cinta kepada kita langsung. Seperti layaknya kita membaca surat cinta buat teman kita. Mari kita coba selami.

Andaikan surat cinta ini dari Aminah kepada Amir kawan kita. Akankah kita rasakan debaran, gelisah, sebagaimana yang dirasakan Amir atau Aminah?

"Abang Amir, saya sedih ketika melepas kepergian abang di dermaga tadi"

Adakah kita merasakan suasana batin mereka, atau keterharuan yang dirasakan Amir ketika membaca surat dari Aminah tadi. Mungkin iya, mungkin tidak. Malah bisa jadi kita akan menertawakan surat cinta mereka yang "sok romantis" "sok sedih" atau bahkan lebih buruk lagi "peduli amat, ini jelas bukan buat saya, I don't care".

Nah sekarang, Bayangkan jika "Abang Amir" di atas diganti dengan nama kita (mangga' diganti dengan nama masing-masing yaa dan diresapi) :-)

"pie, saya sedih ketika melepas kepergian Mu di dermaga tadi"

Wah saya langsung terbayang wajah org yg ku kasihi :-) Terharu, karena ia saat2 melepas kepergian gundah gulana, bahkan menitikkan air mata. Bertambah-tambah rindu dan cinta saya kepada dia , Aih jadi romantis ;-)

Entah sudah berapa tahun kitab yang satu ini selalu nampak di kamar, di ruang belajar, di lemari buku, di musholla, dan tempat-tempat dimana Saya biasa meletakkannya. Ntah berapa kali kitab yang disucikan ini dibaca dan hatam. Namun saya tidak yakin, tuntunannya sudah cukup merubah cara hidup saya, sebagaimana merubah cara hidup Rosulullah dan sahabat-sahabatnya. Ya Al Quran turunnya telah membuat Rosulullah menggigil dan berubah.

Cukup 5 ayat surah Al Alaq, beliau merasa gelisah, gemetar, menggigil kedinginan sehingga membuat istrinya memberikan selimut, menenangkan bahkan menanyakan perihal "kejadian" ini kepada Waraqah, anak paman Khadijah, yang seorang pendeta Nasrani. Bisa dibayangkan tekanan batin yang beliau rasakan sehingga terpikir untuk menerjunkan diri dari bukit (bunuh diri). Apalagi pada saat wahyu terputus. Bingung, gelisah, dan bertanya-tanya "is that real", "am I a Rosulullah?", "bagaimana saya menghadapi kaumku? Akankah mereka menertawakanku tentang kejadian ini?". Begitu pula saat wahyu kedua turun (Al Mudatsir) yang mengingatkan beliau untuk bangkit dari selimut dan berilah peringatan.

"Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah." (Al Muddatstsir: 1-7).

Sungguh ini merupakan perkataan yang besar dan menakutkan, yang membuat Beliau melompat dari tempat tidurnya yang nyaman di rumah penuh kedamaian, siap terjun ke kancah, di antara arus dan gelombang, antara yang keras dan yang menarik menurut perasaan manusia. terjun ke kancah kehidupan (dikutip dari Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfurry, Sirah Nabawiyah).

Namun sayangnya, dahsyat-nya perasaan yang dialami Rosulullah, belum saya rasakan. Mungkin saya masih menganggap Al Quran ini buat Rosulullah. Bukan buat saya. Padahal sungguh, di pikiranku, saya yakin Al Quran ini buat seluruh manusia, bukan hanya Rosulullah. Kabar gembiranya adalah kabar gembira bagi manusia yang beriman. Peringatan dan ancamannya buat ummat manusia. Tuntunannya buat kita. Lalu mengapa tidak ada pengaruh ya? Mungkin cara pandang dan interaksi saya selama ini salah terhadap Al Quran.

"Hai upie yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu, upie, agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah upie memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah." (Al Muddatstsir: 1-7).

Ah... surat ini ternyata bukan hanya untuk Rosulullah. Surat Al Muddatstsir itu pun, bisa menjadi surat cinta dari Allah untukku, untukmu juga.

7 ayat yang agung, sarat dengan tausyiyah meminta saya untuk BANGKIT, BERDAKWAH, TAKBIR, BERSIH2 Jasmani, HINDARI DOSA (bersih2 ruhani), IKHLAS (Menghindari PAMRIH/RIBA), dan SABAR. Entah butuh waktu berapa lama saya bisa merasakan besarnya cinta Allah sampai menurunkan 7 keywords di atas. Entah butuh berapa lama bisa memahami dan mengamalkannya. Pasti Allah marah kalau ada kata yang terlewat, apalagi abai atas surat cintanya. Pasti Allah tidak suka kalau saya hanya pasif, tidak pernah menyampaikan ayat-ayat-Nya. Pasti Allah tahu betapa sedikitnya dzikir diucapkan. Betapa parahnya pamrih yang kadang melintas dihati saya. Ini pertanda sikap ikhlas hanya karena Allah belumlah terpatri di hati. Lalu buat siapa selama ini saya berbuat? Saya hanya ingin minta maaf, semoga Allah tidak murka dan memutuskan cinta-Nya. Nauzubillahi min dzalik.

tulisan ini aku copy dr blog bapa hadi..untuk menambah bacaan saya di kala kegalauwan dtng..thanks pa...sukron kasiron...^__^

Sebuah Renungan..

Pernahkah kau menatap..
Jaring laba2 disudut ruangan?
Lalu pernahkah kita berfikir
Makna nya dalam kehidupan..

Dulu..
Aku pun hanya diam..
Dan menghapus gambaran itu
Dari setiap sudut rumahku..

Lalu..
Aku berfikir..dan merenung..
Bukankah setiap kejadian adalah Kalam Illahi?
Lalu apa maknanya buatku?

Jika kubaca secara tersurat..
Tak lebih hanya sampah yang mengotori sebuah rumah..
Lalu bacaan apa yang tersirat?
Dan aku pun merenung...

Ketika aku memandang..
Hamparan bumi dari ketinggian..
Aku tersentak dan sadar...
Bukankah itu jaring laba2 dirumahku?

Jalan yang bersimpang..
Berliku dan berbatu
Jalan lurus yang bersih dan mulus..
Adalah jaring laba2 didepan mata kita..

Lalu..
Ketika bercanda..dan saling sapa
Dengan teman sekerja..
Tentang perjalanan dari rumah
Aku kembali diingatkan.. .
Tentang jaring laba2...
Aku, dia dan mereka..menempuh jalan yg berbeda..untuk tujuan yang sama

Kini..
Aku mulai fahami..
Jaring laba-laba..
Samalah juga dengan jalan kehidupan
Ada tujuan yang ingin kita gapai..
Ada banyak jalan yang melambai..

Lalu..
Jalan manakah yang akan kita pilih?
Jalan berliku dan panjang
Dengan sekian banyak persoalan..
Ataukah jalan lurus yg mungkin tak seindah jalan lainnya?

Bagiku..
Tetapkahlah tujuan..
Pilihlah jalan
Maka akan sampailah keperbatasan. .


keikhlasan itu..

Selasa, 15 April 2008Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah”. Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48).

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.”

Bagaimana Agar Aku Ikhlas ?

Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah

Banyak Berdoa

Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:

« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad).

Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”

Menyembunyikan Amal Kebaikan

Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits,

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).

Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim).

Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadush Sholihin menyatakan, “di antara sebabnya adalah karena shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu”.

Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat dengan keikhlasan.

Memandang Rendah Amal Kebaikan

Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka”.

Takut Akan Tidak Diterimanya Amal

Allah berfirman :

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun : 60)

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).

Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut tidak diterima oleh Allah.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih ).

Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu.

Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia

Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin” (HR Muslim).

Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah. Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?

Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga Dan Neraka

Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?.

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan ia berdosa”. Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain.

Ingin Dicintai, Namun Dibenci

Saudaraku, sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan karena ingin dipuji oleh manusia tidak akan mendapatkan pujian tersebut dari mereka. Bahkan sebaliknya, manusia akan mencelanya, mereka akan membencinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memperlihat-lihatkan amalannya maka Allah akan menampakkan amalan-amalannya ” (HR. Muslim).

Akan tetapi, apabila seseorang melakukan amalan ikhlas karena Allah, maka Allah dan para makhluk-Nya akan mencintainya sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam : 96).

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan menanamkan dalam hati-hati hamba-hamba-Nya yang saleh kecintaan terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal saleh (yaitu amalan-amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya ). (Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam sebuah hadits dinyatakan “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata: wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah kecintaan padanya di bumi. Dan sesungguhnya apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata : wahai Jibril, sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah ia. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah membenci fulan, maka benciilah ia. Maka penduduk langit pun membencnya. Kemudian ditanamkanlah kebencian padanya di bumi.”( HR. Bukhari Muslim).

Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ’sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ’semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Demikianlah pembahasan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

(Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sehingga sempurnalah segala amal kebaikan)

***

Disusun oleh: Abu ‘Uzair Boris Tanesia

Muroja’ah: Ustadz Ahmad Daniel Lc (Alumni Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)

Minggu, 20 Juli 2008

Renungan Diri

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir,
penyakit royal adalah hidup mewah, dan
penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…."

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. "

Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku…"

Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata, " Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"

Sabtu, 28 Juni 2008

pie Adalah Perempuan.....^^

Ya…karena aku seorang perempuan

Pejuang yang terlahir ke dunia dari rahim Ibunda yang juga perempuan

Ibunda dan Ayahandaku menitipkan cahaya di hatiku

Untuk kubagikan pada jiwaku, anak-anakku dan keluargaku

Juga siapa saja yang hidup bersamaku dan bejalan berdampingan di sisiku

Aku perempuan, bukan karena ingin hadir sebagai perempuan

Tetapi karena amanah yang membawaku ke dunia ini

Menjelma dari tulang rusuk lelaki,

Terkadang aku rapuh atau kaku

Terkadang juga liat dan lentur

Takdirku menemani pemimpinku mengarungi samudera kehidupan

Yang kadang beriak, kadang tenang

Berangin, bersalju dan diselimuti awan

Belajar melangkahkan kaki dengan keanggunan seorang pendamping sejati

Aku, dikelilingi ruang dan waktu

Berputar untuk diriku dan berputar untuk semestaku

Orbitku menahan gravitasi membanting perasaanku yang halus dan lembut

Di pundakku terasa beratnya beban kehidupan ini

Karena dunia mulai tidak bahagia

Karena sebagian jiwa-jiwa yang menghinakan keberadaanku

Aku mulai ada di setiap barisan sekumpulan lelaki

Bahkan terkadang menimbulkan resah, iri hati, keresahan dan pelecehan

Tetapi aku perempuan dengan seribu kekerasan hati

Bersaing sekuat hati juga untuk dapat mengais rejeki

Dimanapun aku berada senantiasa dalam dilema

Karena aku perempuan yang berusaha mengangkat kepala tanpa kesombongan

Membuang keangkuhan karena kepintaran, ketegasan dan kecerdikan

Aku perempuan..,

Terkadang letih dan gelisah

Memikirkan kemana kaki melangkah

Memikirkan apa yang esok harus kuperbuat

Dan apalagi yang harus kupertaruhkan

Agar semua yang berkepentingan denganku memahamiku

Meskipun aku terlahir perempuan

Aku bukan perempuan biasa

Aku istimewa...

Dengan kelebihan dan kekuranganku

Aku adalah bagian dari harta dunia

Akulah aset bagi generasi penerus setelah aku

Meski lemah, aku mampu bergerak dalam arah yang berbeda-beda

Aku juga mampu melakukan berbagai hal dalam satu waktu

Aku...begitu berarti

Karena aku seorang perempuan

Karunia kecantikan dan keluhuran budi kuemban sampai batas titik tujuan

Menggapai cinta sejati yang kucoba bagikan dengan senyuman,

Persahabatan, kelembutan, air mata, kerendahan hati dan ketegaran jiwa

Aku...tetaplah seorang perempuan

Sebagai seorang Ibu

Seorang kekasih

Seorang sahabat dan juga seorang pejuang kehidupan

Karena aku perempuan

bandung` 28`06`08...

Minggu, 22 Juni 2008

Kau Yang Paling Tahu...Karna Kau Maha Mengetahui...


Ketika kau lelah dan tak berdaya karena kegagalan

Allah tahu seberapa gigih engkau telah berbuat


Ketika engkau menangis larut dalam kesedihan

Allah tahu dan menghitung tangisanmu


Ketika kau rindu kepada orang yang kau kasihi dan cintai

Allah tahu hatimu dan Dia yang akan menghiburmu


Ketika kau dalam kesepian

Dan kawanmu terlalu sibuk walau hanya sekedar ber sms ria

Allah yang menemanimu dan berada disisimu


Ketika kau ditinggalkan oleh waktu

Allah yang akan menungguimu


Saat kau tidak tahu lagi jalan keluar masalahmu

Allah mempunyai jawabannya


Ketika kau tak tahu lagi harus berbuat apa

Allah memikili jalan keluarnya


Ketika kau mendapatkan secercah harapan

Allah telah berbisik padamu


Ketika kau gembira dengan sebuah kesenangan

Allah tersenyum kepadamu


Ketika sukses itu menghampirimu

Allah telah memberkahimu


Dan....

Ketika kau punya cita-cita mulia dan dan berusaha mewujudkannya

Allah telah memanggilmu


Dan ingatlah...

Dmn pun kita berada dan apapun yang kau hadapi

Allah mengetahuinya...